Laman

Sabtu, 12 Mei 2012

Atresia


ATRESIA ESOFAGUS DAN ATRESIA REKTI
 

DI SUSUN OLEH :
Defia Anggreana

  
                                   MATA KULIAH  : ASKEB NEONATUS BAYI & BALITA


AKADEMI KEBIDANAN PEMKAB MUARA ENIM
TAHUN AKADEMIK 2011 – 2012

KATA PENGANTAR
                         
Segala puji bagi Allah SWT yang maha hidup tanpa batas waktu, yang maha abadi dan maha agung. Pencipta waktu yang menjadi pembatas keberadaan makhluknya, pencipta kesempatan dengan ruang dan waktu bagi manusia untuk menggapai kebahagiaan atau sebaliknya merugi karena menyia-nyiakannya.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi Muhammad SAW, beserta anggota keluarganya, para sahabatnya dan pengikutnya. berkat rahmat dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Apabila ada kesalahan dalam pembuatan makalah ini kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan kepada allah kami mohon ampun.
Semoga makalah dapat bermanfaat bagi setiap pembaca dan kami juga mengharapkan kritik dan saran yang membangun bagi setiap setiap pembaca, agar makalah ini dapat menjadi lebih baik lagi.



                                                                                                
Muara Enim, 01 November 2010


                                                                                                 Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Atresia esofagus merupakan kelainan kongenital yang ditandai dengan tidak menyambungnya esofagus bagian proksimal dengan esofagus bagian distal. Atresia esofagus dapat terjadi bersama fistula trakeoesofagus, yaitu kelainan kongenital dimana terjadi persambungan abnormal antara esofagus dengan trakea.
Atresia Esofagus meliputi kelompok kelainan kongenital terdiri dari gangguan kontuinitas esofagus dengan atau tanpa hubungan dengan trakhea. Pada 86%  kasus terdapat fistula trakhea oesophageal di distal, pada 7% kasus tanpa fistula Sementara pada 4% kasus terdapat fistula tracheooesophageal tanpa atresia, terjadi 1 dari 2500 kelahiran hidup. Bayi dengan Atresia Esofagus tidak mampu untuk menelan saliva dan ditandai sengan jumlah saliva yang sangat banyak dan membutuhkan suction berulangkali.
Kemungkinan atresia semakin meningkat dengan ditemukannya polihidramnion. Selang nasogastrik masih bisa  dilewatkan pada saat kelahiran semua bayi baru lahir dengan ibu polihidramnion sebagaimana juga bayi dengan mukus berlebihan, segara setelah kelahiran untuk membuktikan atau menyangkal diagnosa. Pada atresia esofagus selang tersebut tidak akan lewat lebih dari 10 cm dari mulut.
           Angka keselamatan berhubungan langsung terutama dengan berat badan lahir dan kelainan jantung, angka keselamatan bisa mendekati 100%, sementara jika ditemukan adanyan salah satu faktor resiko mengurangi angka keselamatan hingga 80%  dan bisa hingga 30-50 % jika  ada dua faktor resiko.
Atresia esophagus merupakan kelainan kongenital yang cukup sering dengan insidensi rata-rata sekitar 1 setiap 2500 hingga 3000 kelahiran hidup. Insidensi atresia esophagus di Amerika Serikat 1 kasus setiap 3000 kelahiran hidup. Di dunia, insidensi bervariasi dari 0,4-3,6 per 10.000 kelahiran hidup. Insidensi tertinggi terdapat di Finlandia yaitu 1 kasus dalam 2500 kelahiran hidup.Masalah pada atresia esophagus adalah ketidakmampuan untuk menelan, makan secara normal, bahaya aspirasi termasuk karena saliva sendiri dan sekresi dari lambung.

1.2       Rumusan masalah 
Adapun permasalahan yang akan di angkat pada makalah ini adalah apa itu Atresia Esofagus dan Atresia Rekti serta bagaimana asuhan keperawatannya?

1.3       Tujuan
1.3.1.   Tujuan umum
Memahami apa itu atresia esofagus dan mengetahui asuhan keperawatan pada anak dengan atresia esofagus.
 
1.3.2  Tujuan khusus
1.  Mengetahui definisi atresia esophagus
2.  Mengetahui etiologi atresia esophagus
3.  Mengetahui klasifikasi atresia esofagus
4.  Mengetahui manifestasi klinik dari atresia esofagus
5.  Mengetahui komplikasi dari operasi perbaikan pada atresia esophagus
6.  Memahami asuhan keperawatan pada atresia esophagus.

1.4       Manfaat
Kita dapat menambah ilmu pengetahuan dan menambah wawasan.

1.5       Metode Masalah
            Dalam penyelesaikan makalah ini  penulis menggunakan metode internet dan berbagai macam buku-buku asuhan kebidanan bayi dan neonatus kesehatan.


BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1  Atresia Esofagus
2.1.1 Epidemiologi
Atresia esofagus pertama kali dikemukakan oleh Hirscprung seorang ahli anak dari Copenhagen pada abad 17 tepatnya pada tahun 1862 dengan adanya lebih kurang 14 kasus atresia esofagus, kelainan ini sudah di duga sebagai suatu malformasi dari traktus gastrointestinal.
Tahun 1941 seorang ahli bedah Cameron Haight dari Michigan telah berhasil melakukan operasi pada atresia esofagus dan sejak itu pulalah bahwa Atresia Esofagus sudah termasuk kelainan kongenital yang bisa diperbaiki.
Di Amerika Utara insiden dari Atresia Esofagus berkisar 1:3000-4500 dari kelahiran hidup, angka ini makin lama makin menurun dengan sebab yang belum diketahui. Secara Internasional angka kejadian paling tinggi terdapat di Finlandia yaitu 1:2500 kelahiran hidup. Atresia Esofagus 2-3 kali  lebih sering pada janin yang  kembar.

2.1.2 Pengertian
Athresia Esophagus adalah perkembangan embrionik abnormal esophagus yang menghasilkan pembentukan suatu kantong (blind pouch), atau lumen berkurang tidak memadai yang mecegah perjalanan makanan / sekresi dari faring ke perut.
Atresia berarti buntu, atresia esofagus adalah suatu keadaan tidak adanya lubang atau muara (buntu), pada esofagus (+). Pada sebagian besar kasus atresia esofagus ujung esofagus buntu, sedangkan pada ¼ -1/3 kasus lainnya esophagus bagian bawah berhubungan dengan trakea setinggi karina (disebut sebagai atresia esophagus dengan fistula).
Kelainan lumen esophagus ini biasanya disertai dengan fistula trakeoesofagus. Atresia esofagaus sering disertai kelainan bawaan lain, seperti kelainan jantung, kelainan gastroin testinal (atresia duodeni atresiasani), kelainan tulang (hemivertebrata).

2.1.3 Patofisiologi
Janin dengan atresia esofagus tidak dapat menelan cairan amnion dengan efektif. Pada janin dengan atresia esofagus dan TEF distal, cairan amnion akan
 mengalir menuju trakea, ke fistula kemudian menuju usus.
Neonatus dengan atresia esofagus tidak dapat menelan dan menghasilkan banyak air liur. Pneumonia aspirasi dapat terjadi bila terjadi aspirasi susu, atau liur. Apabila terdapat TEF distal, paru-paru dapat terpapar asam lambung. Udara dari trakea juga dapat mengalir ke bawah fistula ketika bayi menangis, atau menerima ventilasi. Hal ini dapat menyebabkan perforasi gaster akut yang sering kali mematikan. Trakea juga dipengaruh  oleh gangguan embriologenesis pada atresia esofagus. Membran trakea seringkali melebar dengan bentuk D, bukan C seperti biasa. Perubahan ini menyebabkan kelemahan sekunder pada stuktur anteroposterior trakea atau trakeomalacia. Kelemahan ini akan menyebabkan gejala batuk kering dan dapat terjadi kolaps parsial pada eksirasi penuh. Sekret sulit untuk dibersihkan dan dapat menjurus ke pneumonia berulang. Trakea juga dapat kolaps secara parsial ketika makan, setelah manipulasi, atau ketika terjadi refluks gastroesofagus; yang dapat menjurus ke kegagalan nafas; hipoksia, bahkan apnea.

2.1.4 Etiologi
Sampai saat ini belum diketahui zat teratogen apa yang bisa menyebabkan terjadinya kelainan Atresia Esofagus, hanya dilaporkan angka rekuren sekitar 2 % jika salah satu dari saudara kandung yang terkena. Atresia Esofagus lebih berhubungan dengan sindroma trisomi 21,13 dan 18  dengan dugaan penyebab genetik.
Namun saat ini, teori tentang terjadinya atresia esofagus menurut sebagian besar ahli  tidak lagi berhubungan dengan kelainan genetik Perdebatan tetang proses embriopatologi masih terus berlanjut, dan hanya sedikit yang diketahui.

2.1.5 Tanda dan Gejala
1.    Biasanya disertai hidramnion (60%) dan hal ini pula yang menyebabkan kenaikan frekuensi bayi lahir prematur, sebaiknya dari anamnesis didapatkan keterangan bahwa kehamilan ibu disertai hidramnion hendaknya dilakukan kateterisasi esofagus. Bila kateter terhenti pada jarak ≤ 10 cm, maka di duga atresia esofagus.
2.    Bila pada bbl Timbul sesak yang disertai dengan air liur yang meleleh keluar, dicurigai terdapat atresia esofagus.
3.    Segera setelah di beri minum, bayi akan berbangkis, batuk dan sianosis karena aspirasi cairan kedalam jalan nafas.
4.    Pada fistula trakeosofagus, cairan lambung juga dapat masuk kedalam paru, oleh karena itu bayi sering sianosis.

2.1.6  Gambaran Klinis
          Ada beberapa keadaan yang merupakan gejala dan tanda atresia esofagus,
antara lain:
1.    Mulut berbuih (gelembung udara dari hidung dan mulut) dan liur selalu meleleh dari mulut bayi
2.    Sianosis
3.    Batuk dan sesak napas
4.    Gejala pneumonia akibat regurgitasi air ludah dari esofagus yang buntu dan regurgitasi cairan lambung melalui fistel ke jalan napas
5.    Perut kembung atau membuncit, karena udara melalui fistel masuk kedalam lambung dan usus.
6.    Oliguria, karena tidak ada cairan yang masuk
7.    Biasanya juga disertai dengan kelainan bawaan yang lain, seperti kelainan jantung, atresia rectum atau anus.

2.1.7 Klasifikasi
Klasifikasi asli oleh Vogt tahun 1912 masih digunakan sampai saat ini . Gross pada tahun 1953 memodifikasi klasifikasi tersebut, sementara Kluth 1976 menerbitkan "Atlas Atresia Esofagus" yang terdiri dari 10 tipe utama, dengan masing-masing subtipe yang didasarkan pada klasifikasi asli dari Vogt. Hal ini terlihat lebih mudah untuk menggambarkan kelainan anatomi dibandingkan memberi label yang sulit untuk dikenali.
1.             Atresia Esofagus dengan fistula trakheooesophageal distal
Merupakan gambaran yang paling sering pada proksimal esofagus, terjadi dilatasi dan penebalan dinding otot berujung pada mediastinum superior setinggi vetebra thoracal III/IV. Esofagus distal (fistel), yang mana lebih tipis dan sempit, memasuki dinding posterior trakea setinggi carina atau 1-2 cm diatasnya. Jarak antara esofagus proksimal yang buntu dan fistula trakheooesofageal distal bervariasi mulai dari bagian yang overlap hingga yang berjarak jauh.
2.       Atresia Esofagus terisolasi tanpa fistula
          Esofagus distal dan proksimal benar-benar berakhir tanpa hubungan dengan segmen esofagus proksimal, dilatasi dan dinding menebal dan biasanya berakhir setinggi mediastinum posterior sekitar vetebra thorakalis II. Esofagus distal pendek dan berakhir pada jarak yang berbeda diatas diagframa.
3.             Fistula trakheo esofagus tanpa atresia
Terdapat hubungan seperti fistula antara esofagus yang secara anatomi cukup intak dengan trakhea. Traktus yang seperti fistula ini bisa sangat tipis/sempit dengan diameter 3-5 mm dan umumnya berlokasi pada daerah servikal paling bawah. Biasanya single tapi pernah ditemukan dua bahkan tiga fistula.
4.             Atresia esofagus dengan fistula trakeo esofagus proksimal
Gambaran kelainan yang jarang ditemukan namun perlu dibedakan dari jenis terisolasi. Fistula bukan pada ujung distal esofagus tapi berlokasi 1-2 cm diatas ujung dinding depan esofagus.

5.             Atresia esofagus dengan fistula trakheo esofagus distal dan proksimal
Pada kebanyakan bayi, kelainan ini sering terlewati (misdiagnosa) dan di terapi sebagai atresia proksimal dan fistula distal. Sebagai akibatnya infeksi saluran pernapasan berulang, pemeriksaan yang dilakukan memperlihatkan suatu fistula dapat dilakukan dan diperbaiki keseluruhan. Seharusnya sudah dicurigai dari kebocoran gas banyak keluar dari kantong atas selama membuat/ merancang anastomose.

2.1.8 Penatalaksanaan
1.      Pengobatan
Pengobatan dilakukan dengan operasi. Atresia esofagus dianggap sebagai darurat bedah. Pembedahan untuk memperbaiki kerongkongan harus dilakukan dengan cepat setelah bayi stabil sehingga paru-paru tidak rusak dan bayi bisa diberi makan.

A.  Pre operasi
1)  Keperawatan
a) Sebelum dilakukan operasi, bayi diletakkan setengah duduk untuk mencegah terjadinya regurgitasi cairan lambung ke dalam paru, cairan lambung harus sering diisap untuk mencegah aspirasi.
b) Sebelum operasi, bayi tidak diberi makan melalui mulut. Perawatan diambil untuk mencegah bayi dari sekresi pernapasan ke paru-paru.

2)  Kemungkinan Komplikasi
      Bayi mungkin nafas air liur dan sekresi lainnya ke dalam paru-paru, menyebabkan pneumonia aspirasi, tersedak, dan mungkin kematian.

B.  Pasca operasi
  Komplikasi - komplikasi yang bisa timbul setelah operasi perbaikan pada atresia esofagus dan fistula atresia esophagus adalah sebagai berikut :
1)      Dismotilitas esophagus. Dismotilitas terjadi karena kelemahan otot dingin esophagus. Berbagai tingkat dismotilitas bisa terjadi setelah operasi ini. Komplikasi ini terlihat saat bayi sudah mulai makan dan minum.
2)    Gastroesofagus refluk. Kira-kira 50 % bayi yang menjalani operasi ini kana mengalami gastroesofagus refluk pada saat kanak-kanak atau dewasa, dimana asam lambung naik atau refluk ke esophagus. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan obat (medical) atau pembedahan.
3)    Trakeo esogfagus fistula berulang. Pembedahan ulang adalah terapi untuk keadaan seperti ini.
4)    Disfagia atau kesulitan menelan. Disfagia adalah tertahannya makanan pada tempat esophagus yang diperbaiki. Keadaan ini dapat diatasi dengan menelan air untuk tertelannya makanan dan mencegah terjadinya ulkus.
5)    Kesulitan bernafas dan tersedak. Komplikasi ini berhubungan dengan proses menelan makanan, tertaannya makanan dan saspirasi makanan ke dalam trakea.
6)    Batuk kronis. Batuk merupakan gejala yang umum setelah operasi perbaikan atresia esophagus, hal ini disebabkan kelemahan dari trakea.
7)    Meningkatnya infeksi saluran pernafasan. Pencegahan keadaan ini adalah dengan mencegah kontakk dengan orang yang menderita flu, dan meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi vitamin dan suplemen.

2.2 Atresia Rekti / Anus
2.2.1  Pengertian
Anus imperforate merupakan suatu kelainan malinformasi kongenital dimaan tidak lengkapnya perkembangan embrionik pada bagian anus atau tertutupnya anus secara abnormal atau dengan kata lain tidak ada lobang secara tetap pada anus. Atresia Ani / Atresia Rekti adalah ketiadaan atau tertutupnya rectal secara congenital.

2.2.2  Patofisiologi
Terjadinya anus imperforata karena kelainan kongenital dimana saat proses perkembangan ambrionik tidak pada proses perkembangan anus dan rectum. Atresia anal terjadi karena tidak sempurnanya migrasi dan perkembangan struktur kolon antara 7-10 minggu selama perkembangan janin.

2.2.3      Etiologi
Kegagalan pada fase embrio yang penyebab belum diketahui.
Faktor Herediter : Abnormal kromosom, mutasi gen dan teratogen

2.2.4    Tanda dan Gejala
Tanda dan Gejala atresia anus pada bayi:
1.  Bayi muntah – muntah pada umur 24 – 48 jam.
2.  Sejak lahir tidak ada defekasi mekpnium
3.  Anus tampak merah, usus melebar, kadang-kadang ileus obstruksi.
4.  Termometer yang dimasukkan melalui anus tertahan oleh jaringan.
5.  Pada auskultasi terdengar hiperperistaltik.
6.  Pada fistula trakeoesofagus, cairan lambung juga dapat masuk ke dalam paru, oleh karena itu bayi sering sianosis.

2.2.5     Klasifikasi
Bayi muntah-muntah pada 24 – 28 jam setelah lahir dan tidak terdapat defekasi mekonium. Gejala ini terdapat pada penyumbatan yang lebih tinggi Ladd dan Bross (1996) membagi anus imperforate dalam 4 golongan, yaitu :
1.    Stenosis rectum yang lebih rendah atau pada anus
2.    Membran anus menetap
3.   Anus imperforata dan ujung rektum yang buntu tercetak pada  bermacam - macam jarak dari peritoneum.
4.     Lubang anus yang terpisah dengan ujung rektum yang buntu

2.2.6    Penatalaksanaan
Penatalaksanaan atresia ani tergantung klasifikasinya. Pada atresia ani letak tinggi harus dilakukan kolostomi terlebih dahulu. Pada beberapa waktu lalu penanganan atresia ani menggunakan prosedur Abdomino Perineal Poli Through (APPT), tapi metode ini banyak menimbulkan inkontinen feses dan prolaps mukosa usus yang lebih tinggi. Pena dan Defries (1982) memperkenalkan metode operasi yang baru, yaitu PSARP (Postero Sagital Ano Recto Plasty). Yaitu dengan cara membelah muskulus sfingter eksternus dan muskulus levator ani untuk memudahkan mobilisasi kantong rectum dan pemotongan fistel. Tekhnik dari PSARP ini mempunyai akurasi yang sangat tinggi dibandingkan dengan APPT yang mempunyai tingkat kegagalan yang tinggi.

1.        Terapi dan Pengobatan
a.    Pembedahan
Terapi pembedahan pada bayi baru lahir bervariasi sesuai dengan keparahan kelainan. Semakin tinggi gangguan, semakin rumit prosedur pengobatannya. Untuk kelainan dilakukan kolostomi (membuat anus buatan) beberapa saat setelah lahir, kemudian anoplasti perineal yaitu dibuat anus permanen (prosedur penarikan perineum abnormal) dilakukan pada bayi berusia 12 bulan. Pembedahan ini dilakukan pada usia 12 bulan dimaksudkan untuk memberi waktu pada pelvis untuk membesar dan pada otot-otot untuk berkembang. Tindakan ini juga memungkinkan bayi untuk menambah berat badan dan bertambah baik status nutrisnya.
b.  Pengobatan
1)  Aksisi membran anal (membuat anus buatan)
2) Fiktusi yaitu dengan melakukan kolostomi sementara dan setelah 3 bulan dilakukan korksi sekaligus (pembuat anus permanen)
 
BAB III
STUDI KASUS

Anak (a) laki-laki  berusia 2 hari dibawa ibunya keklinik dengan keluhan utama sianosis dan keluar cairan dari mulut. Satu hari yang lalu anak laki-laki ini mengalami batuk, sesak nafas, perut kembung, dan oligouria.dengan Ku lemah, s : 388˚c,  r : 40 x/menit, n : 126 x/menit


ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI Ny. ''Y''
 DENGAN ATRESIA ESOFAGUS DI BPS '' S '' KABUPATEN MUARA ENIM
TAHUN 2012

I.    Pengumpulan data dasar Pengkajian dilakukan pada hari Kamis, 24 Desember 2008, pukul 10.00 WIB di BPS '' S '' Kabupaten muara enim tahun 2012.

A. Pengkajian
1. Identitas Bayi
Nama                 : By. Ny. ''R''
TTL                    : muara enim , 24 Desember 2008
J. kelamin           : laki-laki

2. Orang tua Bayi
Nama          : Tn Sumito                   
Umur          : 27 tahun          
Agama        : Islam
Pendidikan  : SMA
Pekerjaan    : Wiraswasta
Alamat        : Ds.Sumber gempol

Nama         : Ny.Rina 
Umur         : 25 tahun
Agama       : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan   : Ibu rumah tangga
Alamat       : Ds.Sumber gempol


B. Keluhan Utama
Ibu mengatakan sejak disusui pertama bayinya tersedak dan asi keluar dari mulut dan ibu mengatakan bayinya mengeluarkan air liur dari mulutnya

C. Riwayat Kesehatan yang lalu
1. Riwayat Intranatal
Ibu mengatakan memeriksakan kehamilannya / ANC kebidanan :
Trimester I       : 2 kali
Trimester II     : 3 kali
Trimester III    : 4 kali
Selama hamil ibu melakukan ANC sebanyak 9 kali Ibu mengatakan imunisasi TT lengkap selama kehamilan Ibu mengatakan obat-obatan yang pernah diminum Fe, Kalk, Vitamin C, Vitamin B6, Vitamin B.
Keluhan selama hamil TM I : mual dan muntah pada pagi hari TM II : tidak ada keluhan TM III : sering kencing Ibu tidak ada riwayat alergi terhadap makanan, minuman maupun obat-obatan. Ibu mengatakan tidak menderita penyakit menular
Contoh : Hepatitis, AIDS, PMS Ibu mengatakan tidak ada penyakit Menahun
Contoh  :  Asma, TBC
UK : 40 minggu Selama hamil ibu tidak ada pantangan terhadap makanan, minuman maupun obat-obatan serta minum jamu-jamuan
Ibu merasa BAK mulai tanggal 23 Desember 2008. pukul 21.00 WIB, sifat adekuat, kontraksi 5 kali dalam 10 menit, sudah mengeluarkan lendir yang bercampur darah, ketuban sudah pecah, bayi lahir tanggal 24 Desember 2008 pukul 09.00 WIB ditolong oleh bidan. Persalinan berlangsung secara spontan pervaginam. Jenis kelamin laki-laki, berat badan 2900 gram. Panjang badan 48 cm, lingkar dada 31 cm. selama persalinan tidak ada kesulitan, tidak ada kelainan, tidak ada cacat fisik, plasenta lahir pada pukul 08.05 WIB dengan cara spontan pada saat persalinan. Lama persalinan :
Kala I : 8 jam
Kala II : 1 jam
Kala III : 20 menit
Kala IV : 2 jam
Obat yang diberikan adalah oksitosin 10 unit Untuk bayi hepatitis B I mg
2.  Riwayat neonatal
Bayi lahir secara spontan
Apgar score      : 6 – 7
Berat badan      : 2900 gram
Panjang badan : 48 cm
Lingkar dada    : 33 cm
Lingkar kepala : 34 cm
Makanan          : asi
Perawatan selama bayi : Mandi dan perawatan tali pusat
      3.. Riwayat nifas
Ibu tidak pernah minum jamu-jamuan, tidak ada pantangan terhadap makan atau minuman tertentu.
4.  Riwayat tumbuh kembang
Bayi lahir dengan berat badan 2900 gram, panjang cm, lingkar dada cm. lingkar kepala cm. reflek suching (+), reflek rooting (+), reflek moro (+/+), reflek Gips (+/+), reflek plantar (+/+).

D. Pola Kegiatan Sehari-hari
1. Pola Nutrisi
Setelah bayi diberi asi bayi tersedak dan sejak itu bayinya terus mengeluarkan air liur dari mulutnya.
2. Pola eliminasi
Setelah lahir : BAB 1 kali, warna hitan kehijauan, bau khas, konsistensi lunak, tidak ada push atau darah
3. Pola istirahat
Setelah lahir : bayi belum tidur
4. Pola hygiene
Setelah lahir : bayi belum dimandikan, ganti popok 2 kali
5. Tanda-tanda vital
Nadi : 140 x/menit
Respirasi : 42 x/menit
Suhu : 388˚C 

E.     Perawatan fisik
a.       Kepala
simetris, Fontanel mayor dan minor, tidak ada caput succe atau chepal hoematoma, tidak ada benjolan abnormal lainnya.
b.Mata
Simetris, ada sedikit secret , palpebra tidak odema, sclera putih.
c.   Hidung
Simetris, bersih, tidak ada secret, tidak ada pernapasan cuping hidung mulut      
d.   Bibir
simetris, tidak ada bibir sumbing, tidak sariawan, warna pucat, tidak ada luka, tidak ada seilosis, bibir kering.
e.   Lidah
bersih, warna merah jambu, tidak glositis
f.   Gusi
Warna merah jambu, tidak gingivitis
g. Telinga
  Simetris, tidak OMP, bersih, tidak ada serumen
h. Leher
    Simetris, tidak ada pembesaran tyroid, vena jugularis, kelenjar limfe.
i.  Dada
Simetris, bunyi jantung normal, teratur dan terdengar, tidak ada ronchi, wheezing dan juga tidak ada bunyi mur-mur.

j. Abdomen
Simetris,tali pusat bersih, tidak ada pembesaran dinding abdomen, tidak ada nyeri.tekan
k. Genetalia
Testis sudah turun di skrotum, tidak ada kelainan pada genetalia, dan teraba     lubang.anus.

l. Ekstremitas atas
Simetris, tidak ada gangguan pergerakan, tidak ada odema, tidak ada luka, kulit bersih, tidak polidaktil atau sindaktil, sinopsis di ujung jari, bibir

m. Ekstrimitas bawah
Simetris, tidak ada gangguan pergerakan, tidak ada odema, tidak ada luka, kulit    bersih, tidak polidaktil atau sindaktil, sianosis di ujung akral.
n. Punggung
 Simetris, bersih, tidak ada luka / lesi, tidak ada lanugo

o.  Pemeriksaan reflek
1. Suching +
2. Rooting +
3. Moro +/+
4. Graps +/+
p. Pemeriksaan Penunjang
Dilakukan pada hari kamis, 24 Desember 2008 pukul 10.00 WIB. Telah dilakukan pernafasan sonde dan berhenti 8 cm dan hasilnya tidak dapat masuk dalam lambung.
q..Kesimpulan
Bayi Nyonya Rina dengan atresia esophagus dengan ciri-ciri bayi rewel, tersedak saat minum susu (ASI), air liur sering keluar, dan sering sianosis setelah.tersedak.

II. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH DATA DASAR DIAGNOSA
S : Ibu mengatakan bahwa sejak bayinya lahir, bayinya selalu mengeluarkan air liur dan jika diberi asi, asinya selalu keluar lagi dan bayinya sering kebiru-biruan (sianosing) setetlah tersedak.
O :  KU lemah
Temp  : 388˚C
RR      : 40 x/menit
 N      : 126 x/menit
1.      Bayi rewel
2.      Sering sianosisi karena tersedak
3.      Air liur sering kaluar
4.      Bibir pucat, kering Diagnosa:
5.      Susper atresia esophagus

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA ATAU MASALAH POTENSIAL
 Atresia esophagus
IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN YG MEMERLUKAN TINDAKAN SEGERA
  1. Kolaborasi dengan dokter spesialis anak
  2. Merujuk ke rumah sakit
 Diagnosa / Masalah Tujuan / Kriteria keberhasilan Intervensi Susper atersia esophagus.
Tujuan:
atresia esofagus dapat teratasi
Kriteria :
a. Bina hubungan saling percaya antara keluarga pasien dengan tenaga kesehatan
Rasional: Dengan hal ini dapat menumbuhkan rasa saling percaya sehingga memudahkan untuk melakukan tindakan medis
b. anjurkan pada ibu atau keluarga untuk foto rontgen bayinya.
 Rasional: Untuk memastikan adanya atresia esofagus atau tidak
c..anjurkan pada ibu untuk tidak menyusui bayinya untuk sementara waktu Rasional:Untuk mencegah agar bayi tidak tersedak dan menangis
d. lakukan pemasangan NGT
Rasional: Untuk mengetahui adanya atresia esofagus atau tidak. Jika selang NGT masuk < 10 cm dan tidak bisa masuk sampai lambuing atau saat dites tidak ada gelembung udara berarti bayi mengalami atresia esofagus
Hasil    :
a. bayi tidak tersedak saat minum asi
b. bayi tidak sianosis
c. bayi tidak mengeluarkan air liur lagi                                            
                                                                                                          
Implementasi Evaluasi            :
Dilakukan pada hari kamis tanggal 24 Desember 2008 Pukul 11.30 WIB
1. Membina hubungan saling percaya antara klien/keluarga pasien dengan petugas Kesehatan
2. menganjurkan kepada ibu atau keluarga untuk foto roentgen bayinya
3. Menganjurkan kepada Ibu untuk tidak menyusui bayinya sementara waktu
4. melakukan pemasangan NGT Dilakukan pada hari kamis 24 Desember 2008 pukul 13.00 WIB.
S   : Ibu mengatakan bahwa beliau mengerti atas penjelasa yang diberikan oleh bidan
O    :  KU   :lemah
N     : 90 x/menit
  Temp  : 387˚C
 RR     : 42 x/menit

1.  Air liur keluar dari mulut
2.     Bayi mengalami sianosis
3.     Bayi sering tersedak sat minum asi
4. Bibir pucat dan kering

A   : Atresia uteri
P    : berkolaborasi dan merujuk ke fasilitas yang dilakukan
1.      Memposisikan pasien semi fowler
2.       Melakukan pengisian lendir
3.       Memasang O2 jika terjadi sianosis Design Graphic, Editing Photo & V
 
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1       Atresia esofagus
4.1.1    Gambaran klinis
Liur selalu meleleh dari mulut bayi dan berbui. Apabila liur tersebut masuk kedalam trakea akan terjadi aspirasi pada pistula trakeoesofagus , cairan lambung juga dapat masuk kedalam paru, oleh karena itu bayi sering sianosis. Pemberian minuman dapat menyebabkan batuk atau seperti  tercekik dan bayi seanosis. Kelainan bawaan ini biasanya terdapat pada bayi yang lahir dengan kehamilan hidramion dan biasanya bayi dalam keadaan kurang bulan. Pada bayi kurang bulan ini, pemberian minum sering menyebabkan bayi tersebut menjadi biru dan upnea tanpak batuk – batuk jika terdapat pistula trakeoesofagus perut bayi tanpak membuncit karena berisi udara bila dimasukkan kateter melalui mulut sepanjang 7,5 – 10 cm dari bibir, kateter akan terbentuk pada ujung esophagus yang buntu dan bila kateter didorng terus akan melingkar – lingkar didalam esophagus yang buntu tersebut diagnosi pasti dapat ditegakkan dengan memasukan pipa radio-opak atau larutan kontras lipiodol kedalam esophagus dan dibuat foto torack biasa

4.1.2    Penatalaksanaan medis
Pengobatan dilakukan dengan operasi. Atresia esofagus dianggap sebagai darurat bedah. Pembedahan untuk memperbaiki kerongkongan harus dilakukan dengan cepat setelah bayi stabil sehingga paru-paru tidak rusak dan bayi bisa diberi makan.
1.         Pre operasi
a. Keperawatan
1)      Sebelum dilakukan operasi, bayi diletakkan setengah duduk untuk mencegah terjadinya regurgitasi cairan lambung ke dalam paru, cairan lambung harus sering diisap untuk mencegah aspirasi.
2)      Sebelum operasi, bayi tidak diberi makan melalui mulut. Perawatan diambil untuk mencegah bayi dari sekresi pernapasan ke paru-paru.
b. Kemungkinan Komplikasi
Bayi mungkin nafas air liur dan sekresi lainnya ke dalam paru-paru, menyebabkan pneumonia aspirasi, tersedak, dan mungkin kematian.

2.         Pasca operasi
Komplikasi - komplikasi yang bisa timbul setelah operasi perbaikan pada atresia esofagus dan fistula atresia esophagus adalah sebagai berikut :
a.       Dismotilitas esophagus. Dismotilitas terjadi karena kelemahan otot dingin esophagus. Berbagai tingkat dismotilitas bisa terjadi setelah operasi ini. Komplikasi ini terlihat saat bayi sudah mulai makan dan minum.
b.      Gastroesofagus refluk. Kira-kira 50 % bayi yang menjalani operasi ini kana mengalami gastroesofagus refluk pada saat kanak-kanak atau dewasa, dimana asam lambung naik atau refluk ke esophagus. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan obat (medical) atau pembedahan.
c.       Trakeo esogfagus fistula berulang. Pembedahan ulang adalah terapi untuk keadaan seperti ini.
d.      Disfagia atau kesulitan menelan. Disfagia adalah tertahannya makanan pada tempat esophagus yang diperbaiki. Keadaan ini dapat diatasi dengan menelan air untuk tertelannya makanan dan mencegah terjadinya ulkus.
e.       Kesulitan bernafas dan tersedak. Komplikasi ini berhubungan dengan proses menelan makanan, tertaannya makanan dan saspirasi makanan ke dalam trakea.
f.       Batuk kronis. Batuk merupakan gejala yang umum setelah operasi perbaikan atresia esophagus, hal ini disebabkan kelemahan dari trakea.
4.2       Atresia rekti
4.2.1    Gambaran klinis
Pada bayi wanita sering ditemukan fistula rektovaginal ( dengan gejala bila bayi buang air besar feses keluar dari vagina) dan jarang rektoperineal tidak pernah rektourinarius sedangkan pada bayi laki laki dapat terjadi fistula rektourinarius dan berakhir dikandungan kemih atau uretra dan jarang rektoperineal untuk mengetahui kelainan ini secara dini, pada semua bayi baru lahir harus dilakukan colok anus dengan menggunakan thermometer yang dimasukkan sampai sepanjang 2 cm kedalam anus atau dapat juga dengan jari kelingking yang memakai sarung tangan jika terdapat kelainan maka thermometer dan jari kelingking tidak dapat masuk .bila anus terlihat norml dan penyumbatan terdapat lebih tinggi dari perineum gejala akan timbul dalam 24 – 28 jam setelah lahir berupa perut kembung dan muntah  berwarna hijau.

4.2.2    Penatalaksanaan
Penatalaksanaan atresia ani tergantung klasifikasinya. Pada atresia ani letak tinggi harus dilakukan kolostomi terlebih dahulu. Pada beberapa waktu lalu penanganan atresia ani menggunakan prosedur Abdomino Perineal Poli Through (APPT), tapi metode ini banyak menimbulkan inkontinen feses dan prolaps mukosa usus yang lebih tinggi. Pena dan Defries (1982) memperkenalkan metode operasi yang baru, yaitu PSARP (Postero Sagital Ano Recto Plasty). Yaitu dengan cara membelah muskulus sfingter eksternus dan muskulus levator ani untuk memudahkan mobilisasi kantong rectum dan pemotongan fistel. Tekhnik dari PSARP ini mempunyai akurasi yang sangat tinggi dibandingkan dengan APPT yang mempunyai tingkat kegagalan yang tinggi.

4.2.3    Terapi dan Pengobatan
1.                  Pembedahan
Terapi pembedahan pada bayi baru lahir bervariasi sesuai dengan keparahan   kelainan. Semakin tinggi gangguan, semakin rumit prosedur pengobatannya. Untuk kelainan dilakukan kolostomi (membuat anus buatan) beberapa saat setelah lahir, kemudian anoplasti perineal yaitu dibuat anus permanen (prosedur penarikan perineum abnormal) dilakukan pada bayi berusia 12 bulan. Pembedahan ini dilakukan pada usia 12 bulan dimaksudkan untuk memberi waktu pada pelvis untuk membesar dan pada otot-otot untuk berkembang. Tindakan ini juga memungkinkan bayi untuk menambah berat badan dan bertambah baik status nutrisnya.

2.         Pengobatan
a.       Aksisi membran anal (membuat anus buatan)
b.      Fiktusi yaitu dengan melakukan kolostomi sementara dan setelah 3 bulan dilakukan korksi sekaligus (pembuat anus permanen)

BAB V
PENUTUP
5.1       Kesimpulan
Atresia esofagus merupakan kelainan kongenital dengan variasi fistula trakeoesofageal maupun kelainan kongenital lainnya. Atresia esofagus dapat dicurigai sejak kehamilan, dan didiagnosa segera setelah bayi lahir. Bahaya utama pada AE adalah resiko aspirasi, sehingga perlu dilakukan suction berulang. Penatalaksanaan pada AE utama adalah pembedahan, tetapi tetap dapat meninggalkan komplikasi lebih lanjut yang berhubungan dengan gangguan motilitas esofagus. 

5.2       Saran
Perlu dilakukan pemeriksaan dengan NGT untuk mencari ada tidaknya atresia esofagus pada bayi baru lahir terutama dengan faktor resiko ibu yang memiliki polihidramnion ataupun tanda dari bayi seperti mulut berbuih, air liur yang terus keluar, batuk dan sesak nafas, ataupun kembung. Dalam perujukan, perlu dilakukan tindakan khusus saat pemindahan, yaitu untuk mencegah hipotermia, sumbatan jalan nafas dan aspirasi dengan suction berulang, dan gangguan sirkulasi seperti dehidrasi, hipoglikemia dan gangguan elektrolit dengan pemberian cairan intravena.


DAFTAR PUSTAKA


Brunner and Suddarth. (1996). Text book of Medical-Surgical Nursing. EGC. Jakarta.
Betz, Cealy L. & Linda A. Sowden (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisi ke-3. Jakarta : EGC.
Carpenito, Lynda Juall (1997). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi ke-6. Jakarta : EGC.
Doengoes Merillynn. (1999) (Rencana Asuhan Keperawatan). Nursing care plans. Guidelines for planing and documenting patient care. Alih bahasa : I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati. EGC. Jakarta.
Dorland. (1998). Kamus Saku Kedokteran Dorlana. Alih Bahasa: Dyah Nuswantari Ed. 25. Jakarta: EGC
Long, Barbara. C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Terjemahan: Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan. USA: CV Mosby
Prince A Sylvia. (1995). (patofisiologi). Clinical Concept. Alih bahasa : Peter Anugrah EGC. Jakarta.
Wong, Donna L (2003). Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Sri Kurnianianingsih (ed), Monica Ester (Alih Bahasa). edisi ke-4. Jakarta : EGC.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar